Mengharukan! Museum kebangkitan nasional berisi banyak peninggalan sejarah yang bisa membuat kamu makin cinta pada Indonesia. Di sini, kamu bisa mengetahui sejarah perjuangan secara lebih dekat dan detail. Bahkan, informasi yang tidak tertulis di buku pun ada.

Terletak di Jalan Abdur Rachman Saleh 26 Jakarta, gedung ini awal mulanya merupakan gedung STOVIA. Sebuah tempat di mana warga Indonesia belajar tentang ilmu kedokteran.

Di sini jugalah lahir sebuah organisasi yang sampai saat ini dikenal dengan nama, Boedi Oetomo.

Museum Kebangkitan Nasional
Museum Kebangkitan Nasional via googlemaps @seno ajie

Sejarah singkat dan manfaat gedung STOVIA di masa pergerakan

Sejarah mencatat bahwa pada saat Indonesia dijajah oleh Belanda, ada wabah penyakit seperti tipes, kolera, dll. Kala itu orang Belanda kekurangan tim kesehatan dan tidak ada tim dari Belanda yang mau datang ke Indonesia karena dinilai kumuh dan penyakitan.

Maka dari itu, mau tidak mau mereka harus merekrut warga pribumi yang memiliki kecerdasan untuk diajari sebagai tenaga kesehatan. Di gedung STOVIA inilah warga pribumi terpilih yang jumlahnya dibatasi mengenyam pendidikan sebagai seorang dokter atau mantri kesehatan.

Pada masa pergerakan, gedung ini dipakai sebagai tempat lahirnya cikal bakal organisasi modern. Sebuah pergerakan kaum muda yang cerdas.

Organisasi yang lahir itu tak lain dan tak bukan adalah Boedi Oetomo, yang lahir tepat pada tanggal 20 Mei 1908. Tak hanya lahir, di sini, organisasi yang diketuai oleh Dr. Soetomo tersebut berkembang dengan sangat baik.

Boedi Oetomo Scholars Museum Kebangkitan Nasional
Boedi Oetomo Scholars via instagram @hi_ez

Apa saja yang ada di dalam Museum Kebangkitan Nasional

Museum ini dibagi menjadi dua bagian, yakni ruang bagian kanan dan kiri.

Ruang bagian kiri

Di sebelah kiri, kamu akan melihat beberapa ruang, yakni ruang informasi, ruang pendidikan STOVIA, ruang dosen, ruang memorial Boedi Oetomo, perpustakaan, peralatan dokter yang dipakai untuk belajar, dan asrama.

Pada saat itu, seluruh pelajar di STOVIA harus mau tinggal di asrama dan mengikuti semua peraturannya yang ketat. Mereka yang tidak bisa mengikuti pelajaran harus dipulangkan.

Bayangkan betapa ketatnya persaingan dan betapa kerasnya perjuangan.

Belajar huruf jawa hanacaraka di kelas kartini di Museum Kebangkitan Nasional
Belajar huruf jawa hanacaraka di kelas kartini via instagram @_rhyta_

Ruang bagian kanan

Di sebelah kanan ada ruang sebelum pergerakan, ruang pengenalan, ruang awal kesadaran nasional, dan ruang pergerakan nasional.

Fakta sejarah yang menarik dari Museum Kebangkitan Nasional

Di museum ini, ada banyak fakta menarik yang perlu kamu tahu agar makin sayang dengan Indonesia dan menjadi pribadi yang terus bersyukur. Di antaranya adalah:

Hanya ada pelajar lelaki di STOVIA

Saat masuk ke tempat wisata jakarta murah meriah ini, kamu akan melihat sebuah diorama yang mengisahkan tentang proses belajar mengajar di sekolah kedokteran ini.

Di sini, kamu akan melihat banyak pelajar lelaki dan tidak ada wanitanya. Hal ini karena asrama yang tersedia masih untuk lelaki saja. Kala itu, RA Kartini sempat ingin belajar di STOVIA, namun urung karena tidak ada asrama untuknya.

Daftar Lulusan Kampus Stovia
Daftar Lulusan Kampus Stovia via instagram @adjatwiratma

Lulusan SD langsung sekolah kedokteran

Mereka yang sekolah di sini adalah orang-orang cerdas dan terpilih. Mereka memakai ijazah SD untuk bersekolah dan mulai belajar tentang anatomi tubuh dan ilmu kesehatan lainnya. Keren!

Masa pendidikan sampai selesai

Untuk sekolah dasarnya, hanya butuh sekitar 2-3 tahun. Tapi jika ingin menyelesaikan pendidikan sampai tingkat dokter, maka butuh waktu 9 tahun.

Sistem pendidikan yang digunakan setara dengan punya Eropa, peraturannya ketat, dan saat nilainya jelek maka siswa harus keluar.

Tugu peringatan pendidikan dokter di Indonesia
Tugu peringatan pendidikan dokter di Indonesia via instagram @mposusu

Dr Sutomo sempat akan dikeluarkan dari sekolah

Pergerakan Boedi Oetomo tercium oleh pihak sekolah. Inilah yang membuat Dr Sutomo, sang ketua terancam dikeluarkan. Namun, teman-temannya melakukan demo dan akhirnya beliau tidak jadi dikeluarkan.

Usaha memecah belah bangsa lewat bangku sekolah

Fakta sejarah lain yang terungkap dari gedung ini adalah adanya usaha Belanda untuk memecah belah pelajar Indonesia dengan membedakan pakaian yang dikenakan saat belajar.

Orang muslim memakai kain jawa sebagai bawahan. Sedangkan non muslim harus memakai celana.

Pelajar STOVIA
Pelajar STOVIA via instagram @photograph.wn

Harga tiket masuk ke MKN

Untuk masuk ke sini, kamu hanya perlu mengeluarkan uang Rp 2.000,- saja per orang. Untuk wisatawan asing biasanya perlu membayar Rp 10.000,- per orang.

Kamu bisa mengunjunginya setiap Selasa sampai Minggu dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore.

Yang menarik, kamu bisa menyewa Museum Kebangkitan Nasional untuk acara berbasis pendidikan secara gratis. Misalnya untuk workshop, seminar, dan yang lainnya. Yuk! belajar sejarah langsung dengan merasakan sensasinya di sini! Lebih mengena dan berkesan.

Peta Lokasi