Pasar Santa, Ketika Tradisionalitas Berbaur dengan Kreativitas

Jakarta bukan hanya tentang mall dan gedung-gedung pencakar langitnya. Coba deh sesekali kamu menginap di hotel di Jakarta Selatan, lalu datang ke Pasar Santa yang terletak di kawasan Cisanggiri II, Kebayoran Baru. Kalau dilihat dari luar, Pasar Santa sama sekali tak jauh berbeda dari pasar-pasar tradisional lain yang ada di Indonesia. Begitu masuk ke lantai dua, kamu akan bertemu dengan banyak kios bertema hipster yang dipenuhi oleh anak muda Jakarta.

Bagi yang belum tahu, Pasar Santa adalah salah satu pasar yang paling terkenal di Jakarta, terutama saat era 1970-an dulu. Saat itu, belum ada pasar lain yang bisa menandingi Pasar Santa, hingga akhirnya pusat perbelanjaan modern mulai muncul pada tahun 1980-an, membuat pamor Pasar Santa kian meredup. Namun, pada tahun 2014 lalu, Pasar Santa kembali banjir pengunjung, yang mengejutkannya justru kebanyakan dari kalangan anak muda Jakarta. Ada apa?

Sepotong Kue di Pasar Santa

Source: Flickr

Semua Berawal dari Hadirnya ABCD Coffee

Pada akhir tahun 2014, Pasar Santa seolah mendapat hembusan angin baru dengan berdirinya kios A Bunch of Caffeine Dealers (ABCD) Coffee. Bisa dikatakan kalau ABCD Coffee merupakan salah satu dari beberapa kios kekinian pertama yang buka di Pasar Santa. Tidak seperti kedai kopi kebanyakan, ABCD Coffee tidak memiliki jam operasional yang pasti. Semua tergantung pada ketersediaan kopi mereka. Biasanya, mereka akan mengumumkan jam operasional melalui akun Instagram @abcd_coffee dua hari sebelum akhir pekan.

Uniknya lagi, ABCD Coffee juga menerapkan sistem pembayaran sukarela. Pelanggan bisa memesan menu apa saja yang mereka mau sesuai ketersediaan kopi pada hari itu, lalu menaruh uang di tempat yang telah disediakan. Seluruh barista yang bekerja di ABCD Coffee merupakan relawan, jadi uang yang masuk akan dibelikan biji kopi lagi. Kalau sedang ramai-ramainya, pelanggan ABCD Coffee bisa antri hingga duduk memenuhi satu lantai pasar. Nah, melihat kesuksesan ABCD Coffee ini, akhirnya banyak bisnis serupa yang membuka kios di Pasar Santa.

Bercampurnya Kuliner Lokal dan Barat

Kehadiran ABCD Coffee menginspirasi munculnya kios-kios kuliner kekinian lain di Pasar Santa. Berbagai jenis kuliner bisa kamu temukan, mulai dari masakan lokal hingga bernuansa barat. Salah satu yang cukup populer adalah kue cubit di kios Bitten. Berbeda dari kue cubit tradisional pada umumnya, kue cubit buatan Bitten telah dimodifikasi dengan tambahan berbagai topping modern seperti Nutella hingga red velvet. Ada pula hot dog buatan Dudes of Gourmet (D.O.G) yang disajikan dengan roti berwarna hitam dan diracik menggunakan bahan-bahan dari Jepang. Kalau mau mencoba dessert, kamu bisa membeli es krim di kios bernama Jang Manies.

Tentu masih ada banyak kios kuliner lain yang bisa kamu temukan di Pasar Santa. Beberapa di antaranya adalah Sepotong Kue yang menjual berbagai puff pastry berukuran mungil, Legoh yang menyajikan makanan berat seperti nasi goreng, dan Claypot Po Po yang hadir dengan claypot rice andalannya. Mengingat banyaknya kuliner tersebut, tak mengherankan kalau misalnya ada wisatawan luar kota yang sengaja datang dan menginap di hotel di Jakarta Selatan agar bisa puas berwisata kuliner di Pasar Santa.

The Kitchen di Pasar Santa

Source: Flickr

Mulai dari Koleksi Buku hingga Vinyl

Kuliner bukan satu-satunya jenis kios yang hadir di Pasar Santa, lho. Kamu yang mengaku pecinta barang-barang vintage pasti akan bahagia berkeliling di Pasar Santa. Bagi yang tidak tinggal di Jakarta, coba deh sempatkan waktu dan sisihkan budget untuk menginap selama beberapa hari di salah satu hotel di Jakarta Selatan, lalu datanglah ke kios Laidback Blues Record Store. Di kios ini, kamu akan menemukan koleksi vinyl dari album-album musik keren sepanjang masa. Dari yang semula tidak berniat membeli, kamu pasti akan pulang dengan setidaknya membawa satu vinyl.

Ada pula kios Herestostay yang menjual pakaian dengan tema street fashion. Desainnya keren-keren, jadi kamu pasti akan bangga ketika mengenakannya. Mereka juga menjual beberapa CD dengan koleksi yang tentunya tak akan membuatmu kecewa. Sementara itu, bagi yang hobi membaca, kamu wajib datang ke kios POST, sebuah toko buku independen. Beberapa koleksi bukunya tak akan bisa kamu temukan di tempat lain. POST juga cukup rutin mengadakan acara kreatif, seperti bedah buku, peluncuran buku, hingga workshop menulis. Sama sekali tidak merugikan untuk kamu datangi jauh-jauh sampai menginap di hotel di Jakarta Selatan. Semuanya akan sepadan dengan kepuasan yang akan kamu dapatkan di Pasar Santa.

Sempat Kehilangan Pengunjung (Lagi)

Sayangnya, pada akhir tahun 2015 lalu, Pasar Santa sempat kembali kehilangan pamor. Jumlah pengunjung mulai berkurang meski tidak hilang sama sekali. Salah satu penyebab utamanya adalah kenaikan harga sewa kios, yang dulunya hanya Rp 3 jutaan bisa naik menjadi belasan juta rupiah per tahun. Ketenaran Pasar Santa di kalangan anak muda membuat pihak pemilik kios jadi menaikkan harga sewa. Akhirnya, sebagian penyewa kios pun memilih pindah, tapi ada juga yang tetap bertahan karena mereka sudah memiliki pelanggan setia.

Meski begitu, tidak sedikit kok pihak yang masih optimis kalau Pasar Santa akan semeriah dulu. Kamu bisa menjadi salah satu orang yang mengembalikan pamor Pasar Santa dengan mengunjunginya. Kalau bosan nongkrong di mall atau terjebak macet di kawasan Puncak saat weekend, kamu bisa ramai-ramai mengajak teman-teman untuk menginap di hotel di Jakarta Selatan, lalu jalan-jalan di Pasar Santa. Lumayan kan, malamnya kamu bisa pajamas party dengan teman-teman kamu di kamar hotel!